Ah, tidak mungkin pikirku. Anehnya aku justru malah berharap. Sepertinya aku tidak kapok untuk merasakan hal-hal yang tidak seharusnya dirasakan kembali. Tapi rasaku mengatakan, bukankah manusiawi???. Menyimpannya lalu berharap lagi. Namun tanpa nama.
Ia berdering kembali.
Ternyata aku salah. Justru yang menelponlah yang sedang mengharapkan ijinku. Ijin yang kuiring dengan helaan napas.
Ijin yah aku ingin menertawai diriku.
Tentang dia yang tanpa nama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar